🫧 Bersuci
Wudhu, tayamum dan mandi wajib. Rukun/wajib dibedakan dari sunnah dan doa pendamping agar tidak tercampur.
🚫 Pembatal Bersuci Lengkap
💧 A. Pembatal Wudhu
Kitab Syafi'iyah ada yang mengelompokkan menjadi empat pokok dan ada yang menguraikannya menjadi enam rincian. Substansinya sebagai berikut.
1. Keluar Sesuatu dari Qubul atau Dubur
Kencing, tinja, kentut, darah, nanah, cacing, cairan atau benda lain yang keluar dari jalan depan/belakang termasuk pembatal dalam kerangka Syafi'i.
2. Hilang Akal/Kesadaran
Gila, pingsan, mabuk atau sebab lain yang menghilangkan kesadaran membatalkan wudhu.
3. Tidur
Tidur pada dasarnya membatalkan. Dalam Syafi'i terdapat pengecualian: tidur sambil duduk dengan pantat tetap menetap rapat pada tempat duduk. Bila posisi berubah/tidak lagi menetap, pengecualian ini tidak berlaku.
4. Sentuhan Kulit Laki-Laki dan Perempuan
Menurut Syafi'i, sentuhan langsung kulit laki-laki dan perempuan yang memenuhi syarat dapat membatalkan wudhu, termasuk suami-istri. Rinciannya: berbeda jenis kelamin, bukan mahram, memenuhi batas usia yang diperhitungkan dalam fikih, dan tanpa penghalang.
Rambut, kuku dan gigi bukan kulit. Sentuhan melalui kain/sarung tangan juga bukan sentuhan kulit langsung.
5. Menyentuh Kemaluan
Dalam Syafi'i, menyentuh kemaluan manusia dengan bagian dalam telapak tangan membatalkan wudhu orang yang menyentuh. Bisa kemaluan sendiri atau orang lain dan tidak bergantung pada hubungan mahram.
6. Menyentuh Lubang Dubur
Dalam uraian Syafi'i yang dirujuk NU Online, menyentuh lubang dubur manusia dengan bagian telapak tangan yang diperhitungkan termasuk pembatal.
🔎 Kasus Khusus
Angin dari kemaluan depan (queef): menurut Syafi'i membatalkan karena keluar dari qubul; mazhab lain memiliki rincian berbeda.
Cairan/keputihan: tidak semua cairan boleh disamakan. Asal cairan dan kondisi terus-menerus dapat mempunyai rincian hukum tersendiri.
Ragu kentut: jangan menghukumi batal hanya karena ragu; keyakinan bersuci tidak hilang semata-mata oleh keraguan.
🚿 B. Hadas Besar — Wajib Mandi
- Keluar mani.
- Hubungan seksual/jimak yang memenuhi ketentuan junub.
- Selesainya haid.
- Selesainya nifas.
- Wiladah/melahirkan dalam rincian Syafi'i.
Ini bukan sekadar pembatal wudhu, melainkan keadaan yang memerlukan bersuci dari hadas besar. Buka 🚿 Mandi Wajib.
🪨 C. Pembatal Tayamum
- Semua hal yang membatalkan wudhu.
- Menemukan/mampu menggunakan air ketika sebab tayamumnya adalah tidak memperoleh air, dengan rincian menurut keadaan.
- Hilangnya sebab rukhsah yang sebelumnya membolehkan tayamum, sesuai kasusnya.
Buka 🪨 Tayamum Lengkap untuk rincian.
✅ D. Tidak Otomatis Membatalkan Wudhu — Syafi'i
- Makan atau minum.
- Muntah.
- Mimisan atau darah dari luka yang bukan keluar dari qubul/dubur.
- Menangis.
- Memotong kuku atau rambut.
- Menyentuh rambut, kuku atau gigi lawan jenis.
- Sentuhan kulit melalui penghalang.
- Sentuhan dengan mahram.
🧠 E. Yakin vs Ragu
Yakin sudah wudhu lalu ragu batal: status wudhu tetap sampai yakin ada pembatal. Yakin batal lalu ragu sudah berwudhu: statusnya tetap belum bersuci sampai yakin telah berwudhu. Prinsip ini penting untuk menghindari waswas.
📋 Ringkasan Cepat
🚽 Keluar dari qubul/dubur → batal
😴 Tidur, kecuali pengecualian duduk menetap Syafi'i → batal
😵 Hilang kesadaran → batal
🤝 Sentuhan kulit lawan jenis non-mahram yang memenuhi syarat Syafi'i → batal
✋ Menyentuh kemaluan/lubang dubur dengan telapak yang diperhitungkan → batal
💦 Mani/junub → hadas besar, mandi wajib
🩸 Haid/nifas selesai → mandi wajib
🪨 Tayamum → batal oleh pembatal wudhu dan ketentuan air/sebab rukhsah.
📚 Rujukan
NU Online: “Empat Hal yang Membatalkan Wudhu”; “Beberapa Hal yang Membatalkan Wudhu”; “Perbedaan Sentuhan Kulit dan Kelamin dalam Pembatalan Wudhu”; “Beda Pendapat Ulama tentang Persentuhan Kulit Laki-laki dan Perempuan”; dan “Ini Sejumlah Ketentuan Tayamum”.